RSS
Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2010

Altruisme di tengah Emosi

Oleh : Erwin Albanna*
Darah tak lagi memerah
Namun hitam bersama tanah
Dan serakan tulang belulang
Mendung menutup kota
Pohon-pohon terus terpukau
Keadilan ditanah ini telah lama runtuh
Tercabik dalam bendera usang yang rapuh…
[antologi embun bening]


Hari-hari ini emosi kolektif kita sebagai sebuah bangsa sedang bergemuruh. Betapa tidak, potret gerakan sosial moral tumbuh bagai cendawan dimusim hujan, pada setiap ruang dan strata social masyarakat. Tumbuh dan menguatnya gerakan sosial moral bukan lagi hanya berada ruang-ruang organisasi gerakan mahasiswa, aktivis LSM, tapi sudah menyebar ke ruang-ruang keluarga,masyarakat kecil yang notabene sebagai tukang becak,sopir angkot, loper koran, pengamen, bahkan sampai ke bonek sekalipun.

Emosi kolektif ini lahir karena dibenturkan dengan realitas sosial kebangsaan kita yang sangat memprihatinkan. Terutama dalam hal penegakkan supremasi hukum, pemberantasan korupsi dan pembangunan ekonomi. Ditengah keprihatinan itu muncullah semangat pengorbanan altruisme yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat.

Masyarakat kita seolah diajak untuk terlibat secara emosi dan partisipasi. Coba lihat saja, demonstrasi besar-besaran yang digelar pada 9 Desember 2009 untuk memperingati hari antikorupsi sedunia, dan demonstrasi pada 28 Januari 2010 sebagai momentum 5 tahun + 100 hari pemerintahan SBY. Kedua gerakan sosial moral itu hadir bagai gelombang tsunami yang ingin menghempaskan segala keangkuhan rezim kekuasaan. Segala bentuk ketidakadilan. Pembodohan. Dan otoritarianisme gaya baru yang dipertontonkan rezim penguasa.

Semangat pengorbanan altruisme selalu hadir dalam berbagai bentuknya. Mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa seorang manusia. Kehadirannya adalah sebentuk kesadaran kolektivitas komunal dalam menjaga dan mencapai tujuan bersama. Dia hadir sebagai antitesa permanen dari egoisme seorang manusia. Altruisme lahir dari kekokohan konstruksi mental spiritual seseorang. Ada semangat berkorban bagi orang lain dan kemanusiaan. Ada semangat kepahlawanan dalam keterbatasan-keterbatasan yang melingkupinya.

Tercatat dalam sejarah bahwa keagungan islam ini lahir dan ditulis oleh mereka yang notabene kaum fakir,budak,yatim piatu. Karena mereka adalah kelompok manusia yang mudah dibangkitkan kesadarannya. Dan sanggup memikul beban sejarah. Lahirlah nama-nama besar sepanjang sejarah kemanusiaan, Muhammad SAW, Abu Bakar bin Abu Quhafah, Bilal Bin Rabbah, dsb. Begitulah semangat altruisme mengajarkan kepada kita. Bahwa dia selalu singgah dikemah mereka-mereka yang notabene dilingkupi keterbatasan, untuk menuliskan sejarahnya.

Dalam konteks keIndonesiaan kita, semangat altruisme akhir-akhir ini telah menemukan momentumnya. Walaupun kehadirannya bersamaan dengan akumulasi emosi kolektif masyarakat kita yang telah muak dengan segala ketidakberesan pengelolaan negara. Semangat altruisme masyarakat kita berada ditengah emosi yang disebabkan oleh matinya semangat altruisme ditingkat elit penguasa. Belum pun kering bibir presiden, menteri dan pejabat negara itu mengucapkan sumpah pengabdian,alih-alih bekerja malah kemudian mengganti mobil dinasnya dengan yang sangat mewah. Belum pun usai membangun fondasi harapan yang kuat bagi bangunan peradaban Indonesia lima tahun kedepan di seratus hari masa kerjanya, sekarang sudah meminta kenaikan gaji. Amboii…enaknya jadi elit penguasa.

Banyak fakta yang mengagumkan ditengah masyarakat kita yang bercerita tentang makna altruisme sejati. Cerita tentang koin peduli prita itu adalah sebentuk altruisme luhur. Kesabaran seorang bocah 6 tahun bernama sinar merawat ibunya yang lumpuh, itu juga sebentuk altruisme luhur. Kesadaran seorang mahasiswa yang turun ke jalan menggelar parlemen jalanan, demi menyempurnakan kemerdekaan negerinya, itu juga altruisme luhur.

Ketika modernisasi telah memenjara relasi interpersonal, empati dan mereduksi semangat altruisme. Tapi semangataltruisme terus berjalan ke kemah orang-orang yang siap melanjutkan pendakian sejarah. Ketika egoisme telah menafikan kepedulian dan mengalienasi semangat memberi, dalam banyak hal karakter altruisme akan selalu menampakkan keluhurannya diberbagai ruang kehidupan dengan berbagai aktor sejarahnya. Dengan pengorbanan yang bersifat profan, tulus, dan penuh kemuliaan. Dan biasanya altruisme singgah dikemah orang-orang yang dilingkupi keterbatasan.


*Pegiat Majelis Budaya Kader Kota Malang [+] selengkapnya...

Senin, 18 Januari 2010

Kembali Ke Sejarah

Bila anak bangsa sudah mulai melupakan sejarahnya, maka hilanglah kebesaran generasi bangsanya...[Erwin Al Banna]

Manusia adalah makhluk pelupa. Kemarin seharusnya menjadi sejarah hari ini. Hari ini menjadi sejarah esok hari. Dan esok menjadi sejarah untuk lusa yang lebih baik. Begitu seterusnya tiada berkesudahan. Tapi ternyata tidak berlaku untuk manusia-manusia pelupa. Sejarah bagi para pelupa hanyalah catatan dan kumpulan peristiwa masa lalu. Padahal seharusnya sejarah itu adalah tentang peristiwanya itu sendiri. Bahkan menurut Al Ghazali, janganlah terkesima oleh sebuah fenomena tapi lihatlah apa yang ada dibalik sebuah fenomena. Sebuah peristiwa. Seperti sebuah kaidah, bahwa selalu ada yang terbatin di dalam setiap yang terlahir. Tampak adanya.

Hari-hari ini kita sebagai anak bangsa hidup dalam suasana kebangsaan yang masih belum menggembirakan. Nusantara Indonesia yang luas ini perut buminya menyimpan minyak dan gas bumi, tembaga, bijih besi, nikel, timah, hingga batubara. Lautannya kaya akan berbagai jenis ikan, kerang, rumput laut, hingga mutiara. Tanahnya sangat subur. Udaranya bersih. Matahari sepanjang tahun menyinari ribuan pulaunya. Tapi hari-hari ini kita masih melihat banyak anak bangsa yang mati kelaparan di Yahukimo setiap tahun karena siklus gagal panen tahunan. Kita masih menyaksikan betapa anak bangsa ini rela menggadaikan harga dirinya antre berdesak-desakkan hanya untuk mendapatkan ‘sekerat’ daging kurban. Kita masih melihat perampok yang merampok uang trilyunan rupiah masih belum tersentuh hukum. Padahal di saat yang sama, kita melihat ada yang hanya mencuri dua semangka, tiga kakau[coklat], bahkan hanya mencharge hape saja begitu mudahnya mendapatkan hukuman.

Kembali ke sejarah

Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945 sampai sekarang bangsa kita masih gagap dalam menentukan model peradaban seperti apa yang akan dibangun di Indonesia. Tentunya ini menjadi masalah fundamen bagi kita sebagai anak bangsa. Hari-hari ini mungkin kita sedang mengalami amnesia sejarah. Betapa tidak, nusantara Indonesia yang dimerdekakan oleh darah para ulama dan santri ini tapi dalam perjalanannya pasca kemerdekaan seolah umat ini tidak berhak untuk menentukan nasib dan model masa depan peradabannya. Kita memang sedang mengalami amnesia sejarah, atau lebih tepatnya direkayasa untuk amnesia terhadap sejarah perjuangan bangsa kita sendiri. Kita dibuat lupa oleh penjajah Belanda melalui tangan para orientalisnya dengan didistorsikannya peran-peran sejarah umat islam dalam rangka menegakkan NKRI.

Kesadaran sejarah, menjadi satu hal fundamen bagi anak bangsa. Terutama kaum muslimin Indonesia. Sepertinya kita perlu bertanya. Kenapa Indonesia ini bisa menjadi Negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia? Peran tangan siapakah ini? Hal-hal seperti ini seharusnya menjadi pertanyaan dan kontemplasi bagi kita sebagai anak bangsa. Seperti kata Al ghazali, lihatlah sesuatu dibalik fenomena.
Keputusan Paus Alexander VI dalam perjanjian Tordesilas, 1494 M, yang memberikan kewenangan kepada kerajaan Katolik spanyol dan portugis, untuk memelopori menegakkan imperliasme Barat di berbagai belahan dunia, termasuk nusantara Indonesia. Pada saat itulah, nusantara yang aman damai ini menjadi bergejolak. Terjadi prahara di setiap wilayah yang disinggahi oleh para imperialis tersebut. Kemudian para Ulama dan santri bergerak dari satu surau ke surau yang lainnya, membangun kekuatan untuk mengusir penjajah. Tidak ada peran-peran sejarah Kerajaan Budha Sriwijaya dan Hindu Majapahit waktu itu. Karena keduanya memang sudah tidak ada.

Banyak fakta sejarah yang sejatinya itu menunjukkan betapa signifikannya peran para Ulama dan Santri dalam menegakkan NKRI. Sebagai contoh, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah yang membangun tiga institusi politik islam yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta, dan Cirebon. Kemudian bersama Fatahillah membangun Jayakarta, 22 Juni 1527 M atau 22 Ramadhan 933 H. Nama Jayakarta sendiri diambil dari Al Qur’an surah Al- Fath ayat 1, Inna Fatahna Laka Fathan Mubina. Makna Fathan Mubina adalah Kemenangan Paripurna atau Jayakarta. Dan dikemudian hari dikenal dengan nama Jakarta. Nama jayakarta, melambangkan rasa syukur kepada Allah, atas kemenangannya dalam menggagalkan usaha penjajahan Kerajaan Katholik Portugis, di Pelabuhan Soenda Kelapa. Kisah heroik Wali Songo melawan imperialis Barat dan peran-peran politiknya banyak terlupakan atau mungkin lebih tepatnya disembunyikan.

Kembali ke masa depan

Fakta-fakta sejarah yang menunjukkan betapa signifikannya peran-peran umat Islam dalam menegakkan NKRI tentunya masih banyak. Dan tidak akan cukup kalau kita menuliskannya dalam lembaran artikel sederhana ini. Setidaknya, gambaran sederhana di atas bisa memantik kesadaran kolektif kita tentang sejarah.

Ada sebuah komparasi menarik yang ingin kami berikan. Yaitu antara Indonesia dengan Tiongkok. Pada tahun 1987, Indonesia sudah mempunyai jalan tol Surabaya Gempol dan Jagorawi. Sedangkan pada saat yang sama, Tiongkok belum mempunyai jalan tol sama sekali. Alias nol kilometer. Tapi coba lihat hari ini, Tiongkok sudah melesat jauh meninggalkan kita. Mereka sudah punya minimal 30.000 km jalan tol yang menghubungkan setiap jalur perdagannya. Baik itu jalur utara, tengah, maupun selatan. Dengan kata lain, kalau dikonversikan Tiongkok membangun jalan tol setiap tahunnya sepanjang Surabaya-Medan atau sepanjang 2000km. Coba kita lihat Indonesia hari ini. Anda sudah tau jawabannya kan?

Dalam hal lain, Tiongkok sudah bisa memiliki devisa setiap tahunnya sebesar 1T USD atau sama dengan Rp.10.000 T. Sedangkan kita Indonesia hanya punya uang belanja, APBN sebesar Rp. 1000T. Artinya lebih kurang pemasukan Tiongkok samadengan 10 kali lipat pengluaran Indonesia. Anda tahu maksudnya kan?

Menjadi sebuah agenda mendesak bagi kita sebagai anak bangsa untuk kembali melihat sejarah kebesaran bangsa kita. Membaca ulang sejarah Indonesia dengan menangkap sesuatu dibalik fenomenanya mudah-mudahan bisa memberikan spirit dan panduan bagi kita dalam mendapatkan model masa depan bangsa ini. Dengan melihat fakta sejarah yang ada maka tidak berlebihan kalaulah kita sebagai anak bangsa bertemu pada satu kesimpulan bahwa Indonesia itu adalah Islam, atau Islam adalah Indonesia. Indonesia dan Islam adalah satu. Tidak pernah ada beda antara keduanya.

Para Ulama dan Santri sudah memperhatikan sejarah mereka di esok hari. Tinggal kita sekarang, apakah akan melanjutkannya atau tetap nyaman menjadi manusia-manusia amnesia. Peristiwa sejarah yang terjadi di tengah bangsa Indonesia sampai hari ini, hakikatnya merupakan kesinambungan masa lalu yang mana fondasinya sudah dipancangkan kuat oleh para Ulama dan Santri.

Manusia adalah makhluk pelupa. Kemarin seharusnya menjadi sejarah hari ini. Hari ini menjadi sejarah esok hari. Dan esok menjadi sejarah untuk lusa yang lebih baik. Begitu seterusnya tiada berkesudahan. Tapi ternyata tidak berlaku untuk manusia-manusia pelupa. Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad. Perhatikanlah sejarahmu, untuk esok harimu [QS 59:18]. Wallohu a’lam bishshowab.
[+] selengkapnya...

Membonsai Optimisme Artifisial

“Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata”



Membaca sepenggal puisi Chairil Anwar di atas, seolah ingatan kita dibawa ke penggalan waktu dalam episode sejarah bangsa ini. Betapa tidak, di awal abad ke 20 gagasan kemerdekaan lahir dari sekumpulan pemuda yang dibuang ke negeri Belanda sebagai akibat dari dijalankannya politik etis. Ternyata hal itupun juga dirasakan oleh para pemuda dinegeri ini saat itu. Ada sebuah harmoni frekwensi dalam jiwa mereka. Kesamaan nasib yang melahirkan keluhuran cita-cita mengantarkannya untuk bertemu di titik frekwensi yang sama:kemerdekaan. Dalam kondisi menjadi anak jajahan kolonial Belanda, seolah zaman tidak memberikan harapan kepada sekumpulan pemuda itu. Apa yang bisa diharapkan dari sekumpulan pemuda yang tanpa senjata? Tanpa kekuasaan politik? Namun, mereka berani memilih percaya kepada optimisme. Sejarah kemudian menjawabnya dengan kelahiran sebuah bangsa bernama Indonesia.



Optimisme mereka hanyalah sepenggal cerita tentang begitu panjangnya rangkaian optimisme kolektif bangsa ini dalam membangun Indonesia. Semangatnya sudah di ajarkan oleh para pejuang nusantara sejak kedatangan imperialis portugis pada awal abad ke 15 untuk menjajah nusantara. Tepatnya sudah diajarkan oleh para ulama dan santri yang bahu membahu menggemakan gelora jihad untuk mempertahankan nusantara yang kaya. Ditengah keterbatasan dalam hal persenjataan perang, ternyata para ulama dan santri juga lebih memilih optimisme. Sejarah kemudian menjawab dengan bebasnya pelabuhan soenda kelapa yang menjadi cikal bakal Jakarta.

Bagi manusia yang hidup dalam dunia yang penuh dengan keterbatasan, optimisme adalah visi yang bisa menembus batas logika. Bahkan batas cakrawala zamannya. Itulah yang dipilih para ulama dan santri. Juga para pemuda yang dibuang ke negeri dingin bernama Belanda itu. Tapi justru optimisme jugalah yang telah mengantarnya menjadi manusia-manusia sejarah.

Dalam hal pemaknaan, terkadang-untuk tidak mengatakan seringnya- optimisme hanya berjarak setipis benang dengan kebanggaan masa lalu atau delusi keagungan. Optimisme mengajarkan kita untuk bisa menembus batas logika. Bahkan batas cakrawala zaman. Sedangkan delusi keagungan bisa memerangkap kita ke dalam kubangan fatamorgana realitas. Pengidap penyakit ini bisa menjalani hidupnya dalam alam realitas yang artifisial. Semu. Membaca realitas zaman kita hari ini, baik dalam konteks keummatan maupun kebangsaan bisa jadi kita secara kolektif terkadang terjebak dalam kondisi delusi keagungan. Bangga dengan kejayaan masa lalu. Pada saat yang bersamaan kaki kita terbenam dalam optimisme artifisial. Semu tanpa orientasi arus sejarah.



Kebanggaan masa lalu terkadang membuat kita senantiasa menghadirkan statemen euphoria atas kejayaan yang pernah kita raih di masa lalu. Seperti halnya ketika kita bangga dengan kejayaan peradaban islam yang selama 8 abad lamanya berpengaruh di muka bumi. Terlebih ketika kejayaan peradaban islam dalam hal keilmuan di zaman kekhalifahan Abbasyiyah mencatat saat-saat gemilangnya islam sebagai sebuah peradaban. Setiap penterjemahan satu buku asing dihargai dengan emas seberat buku tersebut. Dalam konteks seperti inilah, terkadang kita terjebak delusi keagungan. Kepuasan terhadap kejayaan tersebut kalau tidak disikapi dengan orientasi arus sejarah yang benar, maka bukan tidak mungkin akan membuat kita-sekali lagi-terbenam dalam kubangan delusi keagungan dan optimisme artifisial.

Selama bertahun-tahun dan bahkan sampai sekarang, kekayaan alam Indonesia yang berlimpah, telah membuat sebagian orang lupa bahwa semua itu terbatas adanya. Mencuri sedikit tidaklah mengapa. Toh masih banyak tersedia di alam begitu alibinya. Bahkan mengkavling dan menjualnya ke orang lain yang notabene orang asing demi kesejahteraan semu. Betapa tidak, budaya asal bapa senang [ABS] telah melompatkan angka-angka pembangunan dan pemerataan kesejahteraan itu. Hadirlah angka-angka politik yang mengklaim jumlah penduduk miskin kita berkurang menjadi kisaran 40 jutaan.

Sejarah pun mengantarkan bangsa ini pada episode kelamnya di akhir penghujung abad 20. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan yang selalu mengutamakan pembangunan pada stabilitas politik dan ekonomi. Dengan meniadakan kebebasan. Terlebih kreativitas. Namun amat disayangkan, kran kebebasan yang telah terbuka itu ternyata juga membuat kita untuk bebas mencaci maki nasib buruk, keterbelakangan, yang kita percaya sebagai sebuah realitas. Aksiomatik. Bandul sejarah pun berayun, dari yang tadinya terperangkap oleh delusi keagungan, menjadi bangsa yang tak berani berpengharapan.

Hari-hari ini pun optimisme itu kian tergerus. Bangsa Indonesia sedang mengalami problem serius dalam hal penegakkan supremasi hukum dan keadilan. Lembaga hukum dan peradilan kita sedang diuji dengan derasnya arus pelemahan dan kriminalisasi. Terjadinya tarik menarik berbagai kepentingan baik individu maupun golongan, telah membawa kita pada pusaran masalah yang menguras energi, pikiran serta biaya ekonomi maupun social yang teramat besar. Kondisi yang tidak sehat tersebut, sejatinya telah membebani masyarakat kita secara komunal. Mempengaruhi tumbuhnya iklim usaha yang sehat, dan memberikan dampak signifikan terhadap anasir kehidupan berkebangsaan yang lebih luas.

Saatnya menyalakan lilin optimisme

Sepanjang tahun 1929 sampai 1937, langit sejarah Amerika mendung tebal bahkan disesaki awan menggulung hitam. Sebentang waktu itu, depresi ekonomi terbesar sepanjang sejarah sedang menghancurkan sendi-sendi kebangsaan mereka. Orang-orang berkerumun dijalanan, melambai-lambaikan permohonan untuk dipekerjakan. Krisis yang seolah sudah menutup segala ruang kemungkinan untuk bangkit itu, ternyata mampu melompatkan Amerika ke langit sejarah yang paling tinggi. Ilmu ekonomi, sains dan teknologi berkembang pesat menembus batas logika. Bahkan sampai sekarang. Padahal pada rentang waktu itu, langit sejarah mereka bukan dipenuhi awan cerah kejayaan, melainkan mendung hitam yang bergulung. Itulah awan hitam kekhawatiran.


Kita perlu merenung sejenak dan melihat langit sejarah bangsa kita. Apakah realitas dan problematika kebangsaan yang kompleks telah mengakibatkan awan hitam tebal bergulung dilangit sejarah kita? Adakah awan hitam kekhawatiran itu dilangit sana? Amerika di satu sisi telah mengajarkan kepada kita tentang optimisme sejati. Bukan optimisme artifisial yang bersekongkol dengan delusi keagungan. Tapi sebuah optimisme yang dilandasi keyakinan dan kepercayaan diri karena awan hitam tebal yang bergulung di langit sejarahnya. Itulah kekhawatiran.

Perubahan mendasar yang dibutuhkan sebuah bangsa yang sedang berada dipersimpangan jalan arus sejarah, adalah mengkudeta pesimisme kolektif. Menggantinya dengan optimisme sejati dan kepercayaan diri. Membonsai optimisme artifisial dan tipuan delusi keagungan dengan mengagregasikan optimisme kolektif yang berorientasi pada arus sejarah yang benar. Karena orientasi “arus sejarah” yang benarlah, yang bisa membedakan antara pesimisme, optimisme, dan delusi keagungan. Pesimisme bisa membuat kita terjebak pada orientasi masa lalu. Entah kehancuran, masa kelam, atau terbuang. Klimaksnya bisa membuat kita semakin terhempas dari arus sejarah dan selalu meratapi masa kini bahkan tidak berani menghadapi masa depan. Delusi keagungan bisa menipu diri kita dengan kekaguman berlebihan terhadap kejayaan masa lalu. Sehingga membuat kita menutup matahati dari kejernihan berpikir untuk melihat realitas hari ini dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Sedangkan optimisme berbeda, dia adalah keberanian untuk menghadapi dan merancang masa depan yang lebih baik, serta mengambil yang terbaik dari masa lalu dan hari ini. Itulah optimisme sejati.

Membaca sepenggal puisi Chairil Anwar di atas, seolah ingatan kita dibawa ke penggalan waktu dalam episode sejarah bangsa ini. Penggalan waktu yang mengajarkan kita tentang betapa signifikannya peran optimisme dalam menentukan orientasi arus sejarah. Optimisme sejati yang diajarkan oleh para kelasi dan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir, pada suatu pertemuan rahasia menjelang kemerdekaan Indonesia. Sambil mengepalkan tangan dan berjanji setia atas nama keluhuran cita:kemerdekaan. Dan diikuti gemuruh takbir yang memecah keheningan malam. Itulah optimisme sejati. Sejarah kemudian menjawabnya dengan kelahiran sebuah bangsa bernama Indonesia.


[+] selengkapnya...

Jumat, 08 Januari 2010

Gerakan Sipil dan Masyarakat Berpengharapan

Oleh : E. Chairil A. *
Momentum reformasi yang kita maknai sebagai fase kemerdekaan Indonesia jilid kedua, telah berumur mendekati tahun ke-12. Dalam rentang waktu itu setidaknya sudah ada dua perubahan yang bisa dirasakan oleh kita, yaitu demokratisasi dan kebebasan berpolitik. Terbukanya kran demokratisasi melalui rahim reformasi sejatinya adalah akumulasi dari berbagai perubahan sosial, ekonomi, politik, dan arus sejarah. Di satu sisi akumulasi berbagai hal tersebut menandakan bahwa, masyarakat kita sudah sampai pada titik kulminasi kemuakan akan ketidakbenaran, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan negara-dalam hal ini pemerintah- yang sudah berurat akar. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada kualitas kehidupan masyarakat kita sebagai entitas dari sebuah bangsa yang memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Di sisi yang lain, terbukanya kran demokratisasi melalui rahim reformasi membawa satu pesan tegas dan jelas bahwa masyarakat kita sedang menjemput takdirnya untuk menjadi masyarakat berpengharapan. Menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik. Bekerja dengan penghasilan yang memuaskan, bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Meningkatkan kualitas pendidikan tiap generasi. Hidup penuh dengan harapan dan optimisme. Masa depan yang terjamin oleh Negara. Itulah barangkali segelintir harapan yang menyeruak, hadir mengisi ruang-ruang kehidupan masyarakat kita bersamaan dengan lahirnya reformasi.

Hampir 12 tahun sudah umur reformasi. Dalam rentang waktu itu, ternyata harapan yang kita pupuk bersamaan dengan terbukanya kran demokratisasi dan kebebasan berpolitik, tidaklah menjelma menjadi kenyataan manis sesuai harapan. Demokratisasi hanya melahirkan kebebasan berpendapat yang cenderung bebas tanpa kontrol. Kita menjadi lebih senang meratapi nasib buruk, bahkan mempercayainya sebagai realitas yang kompleks. Sulit untuk kemudian di urai. Akhirnya harapan tinggallah harapan.

Negara adalah sandaran bagi masyarakatnya. Sangat wajar jika kemudian masyarakat menyandarkan harapan mereka kepada Negara. Pada saat lembaga hukum dan peradilan kita diserang oleh derasnya upaya pelemahan dan kriminalisasi, lalu kepada siapakah harapan itu harus disandarkan? Negaralah jawabannya. Sayangnya kita masih melihat betapa Negara belum bisa menjadi sandaran harapan masyarakatnya. Tapi kita patut bersyukur, pada saat yang sama gerakan masyarakat sipil menunjukkan eksistensinya. Dengan membawa pesan yang sama, bahwa kami sedang menjemput takdir menjadi masyarakat berpengharapan.

Pemilu 2009 sejatinya menjadi harapan akan terejawantahkannya kehidupan kita yang lebih baik. Kita telah menyelesaikan pesta demokrasi itu dengan baik. Walaupun masih banyak catatan yang mencederai kualitas penyelenggaraannya. Terutama hilangnya hak warga Negara untuk memberikan hak pilih dalam kontestasi politik tersebut. Hiruk pikuknya konstelasi politik pasca pemilu 2009, ternyata telah banyak menguras energi kita, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Harus berani kita akui, bahwa harapan demi harapan terkikis. Kalah oleh hingar bingarnya konflik dan konstelasi politik kekuasaan.

Di akhir tahun 2009, gerakan sipil semakin menguat dan menunjukkan peran serta eksistensinya. Di saat hukum sudah tidak bisa menjawab rasa keadilan masyarakat, maka hadirlah gerakan-gerakan sipil sebagai jawaban atas pupusnya harapan itu. Ada gerakan koin peduli prita, gerakan satu juta fesbuker dukung pembebasan bibit dan Chandra, dan gerakan lainnya. Menguatnya gerakan sipil di penghujung tahun 2009 tetap konsisten dengan membawa pesan tegas, bahwa masyarakat ingin menjemput takdirnya menjadi masyarakat berpengharapan. Gerakan sipil semakin menguat karena ekses dari derasnya arus informasi dengan segala sarananya. Hari ini kita melihat dunia yang semakin terbuka, telanjang. Pun begitu juga dalam hal hubungan masyarakat dan Negara. Akses informasi yang begitu cepat dan mudah, hampir bisa dikatakan juga sudah menelanjangi batas-batas penyelenggaraan Negara. Alhasil hubungan masyarakat dan Negara semakin egaliter. Dimana Negara tidak lagi bisa sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Karena pada saat yang sama, ada masyarakat sipil yang kuat dan siap menjadi partner bagi Negara.

Januari 2010, menjadi lembaran baru dalam sejarah kita. Terutama di bidang ekonomi. Dengan diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Agreement [ACFTA]. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi perekonomian kita. Dimana produk China yang dikenal murah dan berkualitas akan dengan mudah membanjiri pasar domestik. Gerakan sipil yang menguat di penghujung tahun 2009, telah menunjukkan perannya dalam memberikan tekanan politis. Dan di tahun 2010 ini, sepertinya gerakan sipil akan semakin berdiaspora dan berdifusi menyesuaikan dengan kebutuhan zamannya. Terutama akan semakin menguat perannya dalam rangka melindungi kepentingan ekonomi domestik. Sebagai akibat dari diberlakukannya perdagangan bebas ASEAN-China. Sebagai contoh, jika industry tekstil di Jawa Barat yang notabene pemasok terbesar pasar tekstil domestik terancam, maka bisa dipastikan intensitas gerakan sipil akan semakin banyak dan kuat. Bukan tidak mungkin, unjuk rasa dan boikot produk asing akan menjadi menu rutin di masyarakat kita.

Pada setiap momentumnya, gerakan sipil selalu membawa satu pesan tegas. Bahwa masyarakat ingin menjemput takdirnya menjadi masyarakat berpengharapan. Merasakan betapa nyaman dan bahagianya tinggal di Negara kaya seperti Indonesia. Mendapatkan hak hidup yang layak sebagai warga Negara. Merasakan buah kesejahteraan dari keberlimpahan kekayaan alam kita. Dan sejatinya itu adalah kewajiban Negara. Masyarakat menyandarkan harapannya pada Negara. Itu sangat wajar adanya. Tinggal bagaimana sekarang Negara bisa menjadi sandaran yang kuat bagi masyarakatnya. Dan kita pun selalu menyiapkan diri untuk menjadi masyarakat yang kuat dan bisa menjadi partner bagi Negara. Dalam setiap nafasnya, gerakan sipil hanyalah ingin menjemput sejumput harapan, sebagaimana taufik ismail katakan dalam penggalan puisinya,

“Berpuluh tahun kita mencari bentuk demokrasi
Yang tepat formatnya bagi kita serta serasi
Tetapi masih juga bablas disana-sini
Berpuluh tahun hukum kita tegakkan agar kukuh berdiri
Tegak dengan lurus berakar ke dalam bumi
Tetapi betapa rumitnya meneguhkan ini.”

Kemudian di penggalan akhir puisinya, Taufik ismail memberikan pesan tegas pada kita

“ Saudaraku,
Masih adakah kiranya harapan bagi kita, manusia Indonesia?
Mudah-mudahan masih ada
Ya, memang masih ada
Selepas seratus tahun bilangan masa
Mari kita berhenti menyalah-nyalahkan siapa
Dalam buku harian kita
Mari kita coret kata putus asa
Dalam kamus bahasa kita
Karena kita akan bangkit bersama
Dengan kerja keras diiringi khusuknya do’a
Dari atas sampai ke bawah
Kerja keras, kerja keras, kerja keras semua
Kemudian berdo’a, berdo’a, berdo’a semua
Berpeluh dalam kerja, menangis dalam do’a
Semoga Indonesia kita
Tetap disayangiNya
Selalu dilindungiNya."

--------------------------

* Pegiat Majelis Budaya Kader Kota Malang
[+] selengkapnya...

Kamis, 07 Januari 2010

Mengarifi Gelar Pahlawan

Pepatah mengajarkan kita dengan ungkapan, “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.” Tidak lama setelah wafatnya KH. Abdurrahman Wahid-Gusdur- pada 30 Desember 2009, publik kemudian disuguhkan lagi dengan kehebohan baru tentang pro kontra gelar pahlawan bagi seorang Gusdur. Memang, wafatnya Gusdur telah memberikan efek psikologis tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kita telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Gusdur telah memberi warna tersendiri dalam potret sejarah bangsa. Kontribusi pemikirannya tentang demokratisasi adalah salah satu hal penting untuk dihargai dan dikembangkan.

Gelar pahlawan dan semangat kepahlawanan adalah satu keping mata uang. Di mana kedua sisinya adalah menyatu, bersenyawa. Gelar pahlawan sejatinya bukanlah simbolisasi kebanggaan primordial, apalagi golongan dan keluarga. Gelar pahlawan adalah simbol sakralitas misi kemanusiaan. Simbol dari luhurnya semangat kepahlawanan itu sendiri. Coba kita lihat, bagaimana epik kepahlawanan dan semangatnya mengajarkan kita tentang arti pahlawan itu sendiri.

1915, genap seabad Belanda merdeka dari jajahan Perancis. Bagi Wilhelmina, Ratu Belanda, tentu sangat menyakitkan diperbudak oleh Napoleon yang pendek itu. Untuk merayakannya, digelarlah perayaan besar-besaran di negeri penuh tanggul tersebut. Ternyata perintah perayaan pun sampai ke negeri jajahannya, Hindia Belanda. Betapa sakitnya bangsa kita pada waktu itu, dimana kita harus merayakan kemerdekaan bangsa yang menjajah tanah kelahiran kita. Jalan-jalan pun penuh dengan hiasan lampu. Merah putih biru berkibar dimana-mana.

Dengan hati perih, dada sesak, tangan-tangan memar berwarna biru akibat tanam paksa itu berjalan gontai ikut merayakan titah sang ratu keriput, Wilhelmina. Pada saat yang sama, para priyayi malah bernyanyi nyaring, “Hidup pulau dan bangsa Jawa.” Sambil menjilat tuannya, Belanda. Ambtenar-ambtenar pun lupa, bahwa rakyat sudah muak dengan semuanya. Muak dengan tanam paksa. Muak dengan nihilisme pahlawan dan semangat kepahlawanan.

1916, Syarikat Islam mengadakan National Congress Central Sjarikat Islam [ Le Natico] dengan satu pesan jelas, tegas, dan menembus matinya nurani para ambtenar serta priyayi. Bahwa pribumi menuntut berpemerintahan sendiri. Merdeka dari perbudakan. Merdeka dari penjajahan Belanda. Inilah seruan terlantang di zamannya. Pengejawantahan dari semangat kepahlawanan sejati. Seperti apa yang dikatakan Natsir, “ Jangan pernah berhenti tangan mendayung biar diri tak terhanyut arus.” Semangat luhur itulah yang berani menantang badai, melawan arus.

Dengan tangan mengepal, pemuda itu berdiri dihadapan orang banyak. Di hadapan ribuan massa yang tumpah ruah di alun-alun Bandung. Pemuda itu tidak ingin membiarkan diri dan rakyatnya terhanyut arus. Membiarkannya tenggelam dalam ketidakpastian dan tak berpengharapan. Tidak. Dia tidak ingin rakyatnya terus berada dalam ketiak penjajah Belanda. Pemuda itu adalah Raja jawa tanpa mahkota. HOS Tjokroaminoto itulah namanya. Tidak sedikit rakyat yang percaya bahwa dia adalah Eru Tjokro dalam Jongko Joyoboyo. Ratu adil.

Tapi itulah pahlawan sejati. Dia tidak pernah sedikitpun mempedulikan tentang gelar apalagi balasan. Baginya, hanya kerja-kerja besarlah yang terpikirkan dan memenuhi ruang-ruang kehidupannya. Seperti pemuda itu, kata-katanya begitu inspiratif. Merdu, mengena, dan membahana. “Meskipun jiwa kita penuh dengan harapan dan keinginan yang besar, kita tidak pernah bermimpi tentang datangnya Ratu Adil. Atau kejadian yang bukan-bukan, yang kenyataan tidak pernah terjadi. Tapi kita akan terus mengharapkan dengan ikhlas dan jujur akan datangnya status berdiri sendiri bagi Hindia Belanda…Tuan-tuan jangan takut!”

Epik kepahlawanan HOS Tjokroaminoto telah mengajarkan kepada kita tentang makna pahlawan yang sesungguhnya. Yaitu tentang kerja-kerja besar dan panjang yang belum selesai. Tentang harapan dan optimisme. Tentang pemikiran dan jejak sejarah. Memprihatinkan jika kemudian gelar pahlawan sudah berubah menjadi sebuah simbolisasi kebanggaan primordial, golongan atau keluarga. Apalagi jika gelar pahlawan sudah menjadi dagangan politik. Usulan untuk menjadikan Gusdur sebagai pahlawan Indonesia, kemudian diikuti oleh Golkar yang mengusulkan Pak Harto juga supaya diberi gelar pahlawan. Jika sudah seperti ini, maka politisasi gelar rentan menjadi sebuah tradisi. Akhirnya kita malah kehilangan momentum untuk memaknai rangkaian cerita kepahlawanan yang sejati.

Pahlawan dan semangat kepahlawanan adalah satu keping mata uang. Di mana kedua sisinya adalah menyatu, bersenyawa. Inti dari keduanya adalah semangat dan kesadaran untuk berkarya, berkontribusi. Pada ruang kehidupan kita masing-masing. Dengan rangkaian cerita yang indah dan inspiratif tentunya. Karena pahlawan adalah mereka yang luarbiasa, extraordinary. Baik secara kontribusi pemikiran maupun karya. Dan ini adalah saatnya kita melanjutkan cerita indah kepahlawanan itu, seperti Chairil Anwar katakan dalam sepenggal puisinya,

“Kami adalah tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan itu
Atau jiwa kami melayang
Untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu
Kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata.”
[+] selengkapnya...

Senin, 07 Desember 2009

Karnaval Paradoksal

“Jika pohon terakhir telah dijarah,
Jika ikan terakhir telah dicuri,
Jika minyak bumi terakhir telah habis dikuras,
Jika emas terakhir telah dialirkan ke Amerika sana,
Jika uang terakhir telah dirampok para bandit-bandit,
Manusia Indonesia mungkin baru sadar,
Bahwa uang bukanlah segala-galanya,

Jika pemimpin terakhir telah tumbang dibeli uang,
Jika polisi terakhir telah mati menggadaikan harga diri,
Jika hakim terakhir telah terbeli merci,
Jika kampus terakhir telah terkunci mulut dan nuraninya,
Rakyat mungkin baru sadar,
Bahwa perubahan hanyalah utopia
Tanpa darah juang…mahasiswa.”

Membingungkan. Ironi memang. Dalam setiap hal yang tampak apa adanya. Ternyata selalu ada yang tersembunyi dibaliknya. Seringkali kita disuguhkan pada ragam keadaan yang berseberangan dengan sejatinya. Paradoks. Terkadang bahkan diametral. Seolah-olah rumusnya selalu vis a vis. Itulah ironisnya. Disaat kita berharap hasil yang baik dari sebuah kerja keras. Tapi ternyata yang didapat hanya lelah dan kesal. Disaat kita membutuhkan solusi, terkadang kita tidak berdaya menangkap sesuatu dibaliknya. Alhasil paradoks semakin menjadi.

Paradoksal memang sering kita lihat dalam keseharian. Di negeri kaya ini pun seolah paradoksal sudah menjadi ritme tersendiri. Disatu sisi ada potret paradoksal kelaparan yang sudah menjadi menu tahunan di yahukimo, pada saat yang sama ada cerita tentang menteri negeri impian ini yang meminta gajinya dinaikkan. Cerita lain tentang seorang Anggodo ”sang kapolri” yang sudah jelas, terang benderang, merekayasa kasus kriminalisasi pimpinan KPK. Tapi sampai sekarang Anggodo masih bebas menghirup udara pagi. Masih disisi yang sama, ada cerita tentang Robert Tantular perampok uang rakyat. Tapi ironisnya hukumannya jauh lebih ringan dengan apa yang sudah dilakukannya. Hanya empat tahun. Itu cerita tentang mereka yang punya uang sehingga “digdaya” dihadapan hukum.

Tapi disisi lain, cobalah tengok cerita tentang mereka yang tak punya uang, sehingga “tak berdaya” dihadapan hukum. Betapa kemudian kasus prita sudah melukai hati rakyat. Prita diputuskan untuk membayar denda uang sebesar 204 juta oleh pengadilan dalam proses banding yang diajukan rumah sakit omni internasional. Atau cerita tentang nenek minah yang “mencuri” tiga buah kakau yang maksudnya digunakan untuk bibit. Begitu juga cerita khalil dan basar yang “mencuri” satu buah semangka harus tegar menerima tuntutan hukuman mendekam dihotel prodeo selama lima tahun. Ironis memang. Atau justru membingungkan.

Pengadilan terkadang-untuk tidak mengatakan seringnya-juga paradoks. Di lembaga ini kita sudah cukup sulit untuk mendapatkan keadilan. Mungkin benar apa yang disampaikan salah seorang aktivis KOMPAK, bahwa pengadilan hari ini sudah menjadi ladang “pembantaian” keadilan. Jika hakim terakhir sudah terbeli merci, maka rakyatlah yang mengadili. Disaat pengadilan sudah tidak dipercaya, maka pengadilan jalananlah jawabannya. Maka pengadilan fesbuker, bloggerlah yang menjadi obat kepercayaannya. Ironi memang. Itulah paradoksnya. Dinegeri yang kaya produk hukum. Tapi miskin penegakkan hukum. Begitulah potretnya.

Mega skandal century, inilah potret paradoksal hukum dinegeri ini. Juga menggambarkan betapa paradoksnya sang pemimpin negeri impian SBY. Rupanya SBY lebih suka berkomentar reaktif, daripada aktif menyeret para perampok uang rakyat itu. Disaat kita butuh solusi, yang hadir justru keluh kesah. Itulah paradoksnya. Menjadi lucu dan menggelikan jika seorang SBY hampir dalam setiap kesempatan didepan publik selalu membantah apa yang menjadi kecurigaan publik terhadap dirinya.

Mungkin inilah karnaval paradoksal. Alih-alih SBY selalu mengembar-gemborkan pemberantasan korupsi. Tapi justru malah mengomentari rencana aksi hari antikorupsi pada 9 desember yang akan digelar besar-besaran tersebut, dengan mengatakan berbagai macam kecurigaannya. Inilah ironisnya. Semakin membingungkan memang. Betapa tidak, dinegeri yang besar ini. Kita minim negarawan. Disaat kita berharap presiden bisa menjadi pemimpin yang arif, berani, dan tegas. Rakyat malah disuguhi aksi-aksi reaksioner yang sejatinya itu bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan bagi kemaslahatan rakyat pada umumnya. Negarawan yang kita inginkan. Bukan keluh kesah, apalagi pencitraan bahwa presiden sedang didzalimi. Rakyat sudah tahu apa yang tersembunyi dibalik yang tampak apa adanya itu.


Menghadirkan negarawan
Cerita-cerita tentang paradoks di negeri kita sepertinya sudah menjadi satu rangkaian cerita yang saling bertaut. Berkelindan. Sampai rumit seolah tak terurai. Dalam situasi yang multikompleks, rumit, dan mendesak tentunya yang kita butuhkan adalah solusi. Bukan sikap yang justru malah menambah masalah dan kerumitan. Ide, gagasan tentang solusi bisa jadi sudah banyak menjadi wacana. Jadi sesungguhnya yang kita butuhkan adalah negarawan. Pemimpin yang bisa mengagregasi solusi dan implementasi. Tapi seorang pemimpin yang negarawan pun belum cukup menjadi alasan bahwa masalah akan selesai. Disisi lain kita juga butuh jiwa negarawan itu termanifestasikan dalam laku keseharian yang dipimpinnya. Rakyat. Atau kita.

Laku yang mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsanya dibanding kepentingan pribadi. Laku yang tergambar dari kepeduliannya untuk berbagi dan memberi. Dengan laku ini, seorang supir angkot, tukang becak atau siapapun itu orangnya bisa menjadi seorang negarawan. Laku negarawan adalah seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu yang menggalang aksi “koin peduli prita”. Itulah laku negarawan. Dibalik koin, sejatinya ada kepedulian. Terhadap sesama. Terhadap nasib penegakkan hukum dinegeri ini. Lagi-lagi paradoks itu bercerita. Tentang laku negarawan rakyatnya. Mereka telah mengambil peran orang-orang yang mengaku negarawan. Tapi lakunya paradoks dengan apa yang diucapkannya. Begitulah karnaval paradoksal bercerita. Merangkai sketsa. Menghadirkan makna dibalik sebuah fenomena. Mereka sudah bercerita melawan paradoksal. Agar karnavalnya tak berjalan terus menggerus harapan. Dan mereka hadirkan karnaval harapan dengan kekuatan apa adanya. Begitulah negarawan.

Membingungkan. Ironi memang. Dalam setiap hal yang tampak apa adanya. Ternyata selalu ada yang tersembunyi dibaliknya. Mereka sudah membangun karnaval harapan. Dan kita akan membuktikan, perubahan adalah hal utopia…tanpa darah juang mahasiswa. Insyaallah.[wa] [+] selengkapnya...

Sabtu, 09 Mei 2009

Keajegan kesadaran

Sejatinya ada begitu banyak kesempatan yang kita miliki untuk berbuat. peluang untuk menang. celah untuk berkontribusi. jenak untuk memainkan imajinasi. tapi disetiap kesempatan. peluang. celah dan semua kelapangan itulah, justru kita tak bergeming. mata hanyalah melihat bendanya. geraknya. rasa hanyalah mencoba mencerna. sebatas simpati, tak pernah lebih dari itu. karena ternyata sulit untuk menjadi empati.

pada fragmentasi kehidupan yang sama. entah itu individual atau komunal. realitas menuntut untuk berbuat. berkarya. dan menjadi tentunya. pelajaran tentang kebaikan sejatinya kita sudah paham. tapi entah kenapa selalu ada anomali dalam realitas. keharusan menjadi teladan bagi para elit politik di hadapan rakyatnya itu pun sudah menjadi kemafhuman yang umum. menjadi penegak hukum yang konsisten dan punya integritas, kita tau itu tugasnya mereka para hakim, jaksa, pengacara, kepolisian dan semua stakeholder yang terkait dengan domain tersebut. menjadi pendidik yang bisa menjadi teladan insiratif bagi anak didiknya, sehingga semakin banyak anak indonesia yang bisa meraih medali kebanggaan, kita tau itu tugasnya para guru yang mulia itu. mendidik umat dan menjadi guru kehidupan mereka, kita tau pula bahwa itu tugasnya para ulama. atau kebanggaan mereka para engineer. memang pilihan mereka hidup untuk membangun kemajuan fisik komunal masyarakatnya.dan kita pun tau bahwa tugas pemimpin bangsa kita adalah bagaimana mereka bisa mensejahterakan rakyatnya.

hakim, jaksa, pengacara, guru, ulama, politikus, engineer, dan pemimpin kita itu hanyalah sebentuk pilihan formalitas kehidupan. sejatinya mereka adalah sama. sama membawa semangat eksistensi kebermanfaatan. bagi dirinya. dan juga bagi komunal. tapi kenapa disaat yang sama selalu terjadi anomali realitas?

anomali realitas
akan sangat indah tentunya jika semua hal di alam ini bisa berjalan sesuai keharusannya masing2. sehingga tidak perlu ada banyak anomali realitas. tapi ternyata, realitas lebih suka beranomali. kenyataan bahwa ketika semua orang tau apa yang baik yang harus dilakukan. tapi ternyata realitas terkadang lebih suka beranomali. sekali lagi beranomali. mungkin hal ini sejalan dengan kaidah untuk menjawab pertanyaan,"bagaimana caranya menjadi orang baik?" secara normatif semua orang tau gmana caranya jadi orang baik. tapi realitas ternyata butuh kesadaran yang ajeg dari kita untuk bisa melakukan kebaikan-kebaikan tersebut.

persenyawaan antara ilmu tentang kebaikan dengan keajegan/konsistensi kesadaran lah yang kita butuhkan untuk senantiasa bisa berbuat kebaikan. sehingga tidak perlu lagi ada cerita tentang pembunuhan karakter dalam berpolitik. penjarahan uang rakyat oleh mereka yang disebut para pemimpin. tidak perlu lagi ada hakim, jaksa, atau pengacara yang memainkan kebenaran hukum. atau mereka para engineer yang merekayasa rencana anggaran biaya proyek-proyek pembangunan. juga para guru yang membunuh masa depan anak didiknya. tidak perlu lagi semua itu. cukup sudah!

modal fundamen
secara individu ataupun komunal. keajegan kesadaran akan senantiasa menjadi kebutuhan fundamen bagi kebaikan-kebaikan yang akan lahir. jenak-jenak waktu akan terus berputar dengan gerakan sentriputalnya. setiap detaknya haruslah menjadi karya. kontribusi. serta konsistensi kebaikan-kebaikan kita. semua domain kehidupan kita membutuhkan keajegan kesadaran. dakwah, profesi, prestasi semua membutuhkan hal tersebut.

andaipun waktu yang berdetak dengan degupan yang cepat itu berputar dengan indahnya sentriputalnya. tetap saja masih ada waktu bagi kita untuk meminimalisir anomali realitas. masih ada waktu bagi kita untuk membuktikan cita menjadi realita. bergeraklah semua semangat individu ke alam realitas. sehingga di ujung realitas itu kita akan melihat kokohnya pembangunan fisik bangsa kita sebagai buah karya mereka para engineer hebat nan cerdas itu. bersihnya birokrasi kita dari para penjarah masa depan rakyat. tertatanya moral generasi bangsa ini sebagai buah tangan para guru dan ulama yang mukhlis. dan tentunya sejahteranya rakyat kita karena pemimpinnya yang adil.

memejam mata. mengecap indahnya masa depan. semoga
[+] selengkapnya...

Selasa, 11 Maret 2008

Islam teologi transformatif

Ketika Islam lahir[diturunkan] pada zamannya, sejatinya kehadirannya adalah sebagai alternative. Islam yang pada dasarnya merupakan gerakan moral, teologi, budaya, politik, dan ekonomi. Tentunya menjadi alternative peradaban pada masyarakat Arab yang pada waktu itu sedang mengalami proses dehumanisasi. Selain itu juga islam menjadi alternative peradaban baru ditengah hegemoni dua peradaban kuat pada waktu itu, yaitu kekuatan Romawi di Barat dan Bizantium di Timur. Akan tetapi semangat[zeit geist] alternative pada zamannya tersebut mengalami fluktuasi. Semangatnya mengalami pasang-surut sampai kemudian sulit untuk mempertahankan karakternya sebagai gerakan alternative. Bahkan pada hari ini kita melihat islam sebagai entitas dan gerakan yang banyak disoroti orang[umat islam sendiri], ketika membicarakan proses dehumanisasi, ketidakadilan gender, kemiskinan dan semua permasalahan keterbelakangan peradaban hari ini. Islam tiba-tiba kehilangan citranya sebagai pewaris peradaban, penegak keadilan, gerakan pembebasan dan pencerahan, apalagi sebagai solusi alternative terhadap system ideology neoliberalisme dan kapitalisme global yang semakin menancapkan kukunya di setiap dimensi kehidupan. Pun juga sebagai alternative dari system dan ideology dehumanisasi pada masa lalu. Ada pertanyaan mendasar yang harus kita jawab. Apakah kemudian Islam bisa mempertahankan citra dan visi spiritualnya sebagai gerakan penebar rahmat bagi semesta alam, yakni membebaskan kaum tertindas dan melepaskan umat manusia dari segala macam bentuk alienasi? Apakah Islam mampu menjadi gerakan alternative untuk menjawab ketidakadilan yang menimpa manusia pada hari ini? Bisakah Islam melawan ideology neoliberalisme dan kapitalisme global yang memarginalkan politik ekonomi dan kebudayaan masyarakat?

Kita perlu ruang refleksi bersama
Umat islam pada hari ini perlu melakukan perenungan kembali atas ajaran moral, teologi doktrin social, politik, ekonomi, pemerintahan yang dulu pernah menjadi jawaban dan solusi alternative permasalahan dehumanisasi di zamannya. Pada hari ini umat manusia dan juga umat islam dihadapkan pada suatu permasalahan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia. Disamping kegetiran kita[umat islam] melihat fenomena kaum muslimin palestina yang masih berada dalam penjajahan Israel. Namun ada hal lain yang menjadi masalah kita hari ini, yaitu ancaman menguatnya system ekonomi dan politik neoliberalisme atau yang kita sebut kapitalisme global yang senantiasa berusaha menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Sepertinya, ancaman menguatnya system ekonomi dan politik neoliberalisme dalam bentuk"pasar bebas" merupakan kembalinya paham kolonialisme dan imperialism yang sudah lama mati. Bahkan lebih jauh lagi ini merupakan fenomena kembalinya "ideology jahiliyah" yang pernah menjadi persoalan dehumanisasi pada zamannya dan islam bisa hadir menjadi alternative di zamannya. Adapun penyikapan pemikiran Islam khususnya di Indonesia dalam menyikapi ini tidak satu pemikiran Umat islam Indonesia pada hari ini terbagi ke dalam kelompok-kelompok. Keprihatinan mendasar atas kondisi kekinian Umat islam Indonesia bahkan juga dunia. Bahkan ada anekdot Umat islam bersatu ketika menghadapi satu musuh tap ketika tidak ada musuh maka akan saling berebut kepentingan, berlomba menancapkan pengaruh masing-masing.
Pandangan kelompok aliran pemikiran Islam berdasarkan paradigma yang diusung
Kelompok aliran pemikiram Islam Indonesia dalam menyikapi permasalahan umat dan bangsa [kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan peradabandan globalisasi] terbagi menjadi firkoh-firkoh. Adalah sebuah hal yang mustahil kelompok pemikiran tersebut direduksi atau dijadikan tunggal. Adapun pandangan kelompok aliran Islam terhadap permasalahan tersebut di atas dikelompokan berdasarkan kepada "cara pandang[paradgma]" bukan pada hal tipologi keagamaan[priyayi, santri dan abangan]. Kelompok aliran tersebut diantaranya:
1.Kelompok tradisionalis: Kelompok ini percaya bahwa kemiskinan umat pada hakikatnya adalah ketentuan dari Allah. Hanya Allah yang tahu makna dibalik ketentuan tersebut. Masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan peradaban, marginalisasi ekonomi dan politik serta budaya local tidak ada sangkut pautnya dengan ideology neoliberalisme dan kapitalisme global.
2.Kelompok modernis[islam liberal]: Mereka lebih meyakini bahwa permasalahan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan peradaban dan marginalisasi ekonomi politik dan budaya local adalah akibat dari "adanya kesalahan umat islam dalam hal sikap, mental serta teologi".Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan peradaban umat islam tidak ada sangkut pautnya dengan menguatnya ideology neoliberalisme dan kapitalisme global. Bahkan,kata mereka kita akan menyiapkan sumber daya manusia yang siap bersaing di era globalisasi seperti sekarang.
3.Kelompok revivalist/fundamentalist: Mereka lebih melihat factor internal dan eksternal yang menyebabkan permasalahan-permasalahan tersebut di atas. Mengapa umat islam miskin, bodoh dan mengalami kemunduran peradaban? Semuanya disebabkan karena umat islam sendiri yang justru memakai ideology lain atau "ismea" lain sebagai dasar pijakan ketimbang Al-Qur'an dan sunnah sebagai mabda'[baca: ideology]. Cara pandang ini berangkat dari pemahaman bahwa Al-Qur'an pada dasarnya sudah menyediakan arahan, petunjuk secara holistic dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Terlebih jika umat islam memang percaya alam semesta beserta isinya adalah ciptaan Allah, maka yang berhak mengatur ciptaannya adalah Allah sendiri. Sehingga tidak ada pilihan lain selain kembali kepada Al-Qur'an sebagaimana dicontohkan oleh generasi terbaik: Rosululloh dan para sahabatnya. Kelompok ini menilai globalisasi dan kapitalisme adalah agenda barat yang dipaksakan kepada umat islam.
4.Kelompok transformative kiri: Mereka meyakini bahwa kemiskinan rakyat pada dasarnya diakibatkan oleh ketidakadilan system dan struktur ekonomi, politik dan budaya. Sehingga tida heran, jika agenda utama mereka adalah melakukan transformasi terhadap struktur melalui penciptaan relasi yang secara fundamental baru dalam bidang ekonomi, politik dan budaya.

Islam sebagai solusi alternative
Dewasa ini bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada banyak persoalan. Mari kita buka mata buka hati dan telinga untuk melihat negeri yang kita cintai agar semakin tumbuh rasa kebangsaan dan cinta akan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Beberapa persoalan bangsa kita hari ini diantaranya masalah korupsi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, hutang luar negeri, bencana alam, rendahnya produktivitas, rendahnya kualitas manusia Indonesia dsb.
17 Agustus sebagai momentum kemerdekaan bangsa kita hendaknya kita maknai dengan spirit pembaharuan dan kemandirian sebagai sebuah bangsa. Mengutip apa yang disampaikan Yusuf Kalla di harian kompas edisi senin 13 Agustus " Tujuan utama kita adalah mencapai kemandirian bangsa dan kemandirian itulah puncak dari kemerdekaan. Penguasaan teknologi bisa menjadi salah satu bagian alternative menuju kemandirian bangsa. Akan tetapi solusi itu haruslah dipandang dari kacamata yang holistic karena permasalahan bangsa kita pun demikian kompleksnya. Wacana islam sebagai alternative harus dibarengi dengan kerja-kerja nyata. Kalaulah selama ini kita terbiasa sudah cukup puas dengan hanya memberikan pernyataan sika tentang suatu masalah. Maka hari ini kita harus memulai gerakan islam bisa tampil menawan dengan segudang teori dan aplikasi yang berguna bagi bangsa. Ada sebuah ungkapan yang baik untuk kita renungkan: If better is possible good is not enough. If the best is possible better is not enough. KAMMI sebagai bagian dari arus kebangkitan islam global tentunya dituntut untuk bisa memainkan perannya sebagai problem solver bukan problem speaker bahkan problem maker. Persoalan dehumanisasi adalah persoalan menyangkut manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah sehingga hanya aturan-Nya lah yang layak untuk mengatur kehidupan manusia. Pengejawantahan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar perjuangan kita , harus dikemas dan disampaikan dalam tampilan yang menawan. Sehingga cita-cita besar kebangkitan umat dan bangsa ini terwujud dengan adanya bagian kerja-kerja besar kita di dalamnya. Sampai bertemu kemenangan di penghujung jalan ini.Semoga[]

Intanshurulloha yan shurkum wa yutsabbit aqdaamakum
Allohu a'lam walillahil izzah
[+] selengkapnya...